RSS

Dr Waldensius Girsang SpM

Dr Waldensius Girsang SpM

Dr Waldensius Girsang SpM
Fotografer: Epaphroditus Ph. M.

Belajar Tidak Pernah Berhenti

“Dokter Girsang di lantai 4,” kata seorang petugas resepsionis ketika ditanyakan ruang praktik Dr Waldensius Girsang SpM. Di lantai 4 Gedung Jakarta Eye Center (JEC) Jalan Cik Ditiro (Menteng, Jakarta Pusat), posisi ruang praktek dokter berada paling ujung sebelah kanan. Ketika mencoba membuka pintu, dokter sedang memeriksa pasien. “Tunggu sebentar,” kata asisten dokter. Setelah menunggu beberapa saat, dokter Girsang mempersilahkan masuk.

Dokter yang satu ini tampak kalem. Suara lembut, nyaris tak terdengar tetapi jelas dalam berucap. Perbincangan seputar karier profesi kedokteran untuk spesialisasi mata, pendidikan theologi Kristiani, dan sekelumit pandangan mengenai Pantai Bunaken di Manado (Sulawesi Utara) yang pernah dua kali dikunjunginya. Berikut wawancaranya.

Apa yang melatarbelakangi Anda sebagai seorang dokter spesialis mata untuk mempelajari ilmu theologi?

Belajar tidak pernah berhenti selama kehidupan terus berjalan. Saya berpikir, bagaimana saya dapat menjelaskan kepada pasien bagaimana menjadi suratan terbuka bagi Kristus. Selain, bahwa ketika saya memperhatikan, para pengkhotbah tampak berkuat pada hal-hal yang dianggap paling rohani. Tak heran jika ada jemaat yang berpandangan miring terhadap segelintir pengkhotbah. Pandangan jemaat itu seperti bahwa pengkhotbah sebagai profesi yang juga menuntut upah atau bayaran. Tak heran, jika berkembang isu terjadi perebutan jemaat yang memiliki latar belakang ekonomi yang mapan atau bahkan sangat mapan.

Ketika, saya berdiri di depan jemaat dan mengkhotbahkan kebenaran firman Tuhan, mungkin mereka akan bersikap sinis: “Ah, loe tahu apa sich.” Sehingga, saya mencoba mencari dukungan atau diback-up oleh theologi. Hidup penuh keseimbangan. Saat saya menjalankan profesi sebagai dokter dan memiliki pendidikan theologi yang baik tentu akan mempermudah memberikan gambaran kepada pasien mengenai pentingnya dekat dan mengenal Tuhan. Apa yang dibawa ketika kematian telah menjemput? Bukan harta atau kekayaan, tetapi setiap amal baik yang dicatatkan setiap saat kepada umat ciptaan itu. Melalui profesi dokter, saya melayani mereka untuk membantu mengalami proses penyembuhan, sementara dukungan pendidikan theologi yang baik semakin mempermudah untuk memberikan gambaran pentingnya pengenalan terhadap Tuhan yang memberikan kehidupan.

Lalu, mengapa yang dipilih STT IKAT dan bukan perguruan theologi lain?

(Mengangkat tangan kanan ke atas). Tidak ada jawaban lain, selain Yang di Atas sana yang mengetahui rancangan-rancangan dan rencana-rencana kemuliaan di hari-hari yang akan datang. Benar. Karena sebelum menjatuhkan pilihan pada STT IKAT, saya telah berkomunikasi dengan STII pimpinan Dr Christ Marantika. Sewaktu STII dibuka, pada saat itu, saya berhalangan hadir. Saya dengar, ternyata kemudian tidak jadi digelar. Kemudian, saya mendengar dari beberapa teman untuk membantu memberikan referensi dan saya mencoba-coba untuk mengatur waktu, tetapi, ternyata tidak terjadi sinkronisasi waktu belajar dan bekerja.

Suatu saat, ketika saya bisa pulang lebih cepat dari praktek, saya meminta pengemudi mengemudikan kendaraan menuju kawasan Kuningan (Jakarta Selatan). Kemudian, kendaraan dibelokkan di komplek Menara Imporium. Ternyata, di sebuah cafe, Direktur Program Pasca Sarjana Dr Jimmy Y Polii MA MTh PhD sedang menikmati hidangan ringan sambil berbincang-bincang seputar pengembangan pendidikan theologi dan pelayanan ke depan. Saya bergabung. Pada saat itulah, saya memutuskan bergabung dengan STT IKAT.

Saya berbuat terhadap apa yang bisa saya buat. Ternyata, di dalam lingkungan keluarga juga saya sering digoda-goda; “Awas ya, jangan lari!” Mereka mungkin berpikir, saya akan meninggalkan profesi dokter dan sepenuhnya menjadi seorang theolog. Memangnya, saya sudah tidak bisa berpikir secara sehat lagi…?

Suatu fenomena pernah terjadi dan mungkin akan terus terjadi, bahwa sejumlah kalangan berprofesi kemudian memutuskan belajar theologi dan akhirnya berkecimpung dalam dunia pelayanan jemaat secara penuh. Alasan yang dikemukakan katanya “ingin memenuhi panggilan Tuhan”, bagaimana pandangan dokter?

Ada hal-hal yang tidak bisa kita pikirkan. Hal-hal tersembunyi hanya milik Tuhan. Ulangan 29:29 menyatakan, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” Saya menjalani apa yang saya ketahui. Tidak perlu menghakimi seseorang. Hal-hal yang tidak kita ketahui, berarti Tuhan yang mengetahui semua itu.

Ternyata, begitu bergabung dengan STT IKAT, banyak orang-orang yang memiliki latar belakang kelahiran dan keturunan dari Manado (Sulawesi Utara). Bagaimana dokter dapat bersosialisasi dengan mereka, meskipun (mungkin) persamaannya terdapat pada kata “utara”-nya saja, dimana dokter memiliki latar kebudayaan atau keturunan dari Sumatera Utara?

Tidak ada masalah. Justru, di lingkungan seperti itulah, pengendalian emosi semakin mengalami ujian. Kita harus bisa menempatkan diri, dimana dan dalam situasi yang bagaimana. Jika kembali ke Alkitab, memang begitulah yang diperintahkan Tuhan. Berbicara buah-buah Roh, apalagi kalau bukan kasih dan kesabaran? Terkadang, adik saya, Junimart memperhatikan dan berkomentar, kok sampai begitu amat, ya… saya jawab sekenanya, saya lagi ujian. Saya memang sering bercanda dengan adik saya itu. Hahahaha…..

Prinsipnya, bagaimana lingkungan dapat melihat saya sebagai cerminan kasih Kristus. Terlalu sering, di ruang praktek di lantai 4 JEC (Jakarta Eye Center), Menteng mengalun lagu-lagu Kristiani dalam versi bahasa Inggris. Ada suasana teduh ketika kita mendengar lagu pujian pengagungan kepada Tuhan. Seorang pasien pernah berujar, “Dokter, saat berada di ruangan ini rasanya teduh sekali.”

Selama ini, pernahkah dokter berwisata di lokasi wisata yang berada di Sulawesi Utara seperti Bunaken? Atau menikmati masakan-masakan khas Manado yang tersebar di berbagai restoran di Jakarta?

Sudah dua kali saya ke Bunaken. Daerah wisata itu kurang terkelola. Sayang perilaku masyarakat di sana tidak berubah atau diubah menjadi warga yang memiliki obyek wisata kelas dunia. Tidak disadari bahwa Bunaken merupakan tempat turis. Tempat pembuangan air kecil saja tidak ada air. Jadi perilaku masyarakat di sana harus berubah. Ini sebenarnya tugas pemerintah daerah setempat. Jika dikelola dengan baik, sebenarnya daerah wisata itu sudah sangat mendunia dan turis-turis mancanegara semakin berbondong-bondong. Tetapi, semua kembali pada perilaku masyarakat tadi.

Rasa pedas masakan khas Manado seiring dengan makanan asal Sumatera Utara. Rupanya yang di utara itu suka yang pedas-pedas. Nikmat. (Epaphroditus Ph M)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: