RSS

Teladan Zhū Róngjī dan Hakim Illinois

16 Apr
Erwin Pohe

Dr Erwin Pohe A Pohe MBA. Foto: Epaphroditus Ph. Mariman

Oleh: Dr Erwin A Pohe MBA bersama Epaphroditus Ph. M.
Korupsi di Indonesia telah demikian mengakar. Bahkan, telah menjadi budaya. Hingga kini, pimpinan negeri ini masih mencari-cari suatu langkah atau kebijakan untuk menanggulanginya. Mengenai pemimpin negara harus memberikan hukuman yang menimbulkan efek jera, penulis ingat pada seorang tokoh pemimpin China bernama Zhū Róngjī.

Karena dampak rusak korupsi begitu besar, Perdana Menteri Zhū Róngjī mengutarakan agar disediakan 100 peti mati untuk para koruptor. Ketika dilantik Zhū Róngjī (Perdana Menteri Republik Rakyat Cina ke-5 periode 17 Maret 1998–16 Maret 2003) melontarkan gagasan, “Berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri jika saya pun melakukan hal itu.” (petikannya bisa dibaca di kaskus.us dan blogspot.com). Ucapan sang pemimpin kemudian dibuktikan. Cheng Kejie (mantan Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional) dijatuhi hukuman mati karena terlibat suap senilai US$ 5 juta. Permohonan banding yang disampaikan ditolak pengadilan. Bahkan istrinya, Li Ping dihukum penjara karena membantu suaminya untuk meminta suap (korupsi).

Di awal tugas, Zhu mengirim peti mati kepada koleganya sendiri. Hu Chang-ging yang pernah menjabat Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi pun mendapat jatah satu peti mati itu. Chang-ging ditembak mati setelah terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar. Xiao Hongbo (lelaki 37 tahun) yang menjabat Deputi manajer cabang Bank Konstruksi China (satu bank milik negara) di Dacheng (Provinsi Sichuan) dijatuhi hukuman mati karena korupsi. Xiao telah merugikan bank sebesar 4 juta yuan atau sekitar Rp 3,9 miliar sejak 1998 hingga 2001. Uang itu digunakan untuk membiayai kehidupan delapan orang pacarnya. Xiao Hongbo menjadi seorang di antara lebih dari empat ribu orang di Cina yang telah dijatuhi hukuman mati sejak 2001 karena terbukti melakukan kejahatan, termasuk korupsi.

Angka 4000 itu, menurut Amnesti Internasional (AI), jauh lebih kecil dari fakta sesungguhnya. AI mengutuk cara-cara seperti itu dan menyebut sebagai suatu tindakan yang mengerikan. Tetapi, bagi Zhu Rongji, itu adalah jalan untuk menyelamatkan Cina dari kehancuran negara dan bangsa. Ratusan bahkan mungkin ribuan peti mati telah terisi, tidak hanya oleh para pejabat korup, tapi juga pengusaha, bahkan wartawan. Selama empat bulan pada periode 2003, setidaknya 33.761 polisi dipecat. Mereka dipecat tidak hanya karena menerima suap, tapi juga berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas, dan kualitas di bawah standar. Agaknya Zhu Rongji paham betul pepatah Cina: bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera. Dan, sejak ayam-ayam dibunuh, kera-kera menjadi takut. Sejak itu, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 10,6 persen per tahun dengan nilai pendapatan domestic bruto sebesar 1.000 dolar AS. Cadangan devisa China mencapai USD 2,454 triliun pada akhir Juni 2010.

Harian Kompas, Senin, 28 November 2011 merilis daftar beberapa koruptor di China yang divonis mati, yaitu Wakil Gubernur Provinsi Anhui divonis mati pada Februari 2004 karena suap sebesar USD 623.000 dan tidak mampu menjelaskan asal-usul uang sebesar USD 600.000 di rekeningnya. Bi Yuxi (administrator jalan raya Beijing) divonis pada Maret 2005 karena suap sebesar USD 1,2 juta dan penggelapan sebesar USD 360.000 dana publik. Li Baojin (mantan jaksa penuntut di kota Tianjin Utara) divonis pada Desember 2007 karena suap dan penggelapan senilai USD 2,66 juta saat ia menjabat kepala jaksa dan wakil kepala polisi di Tianjin. Zheng Xiaoyu (pejabat Dinas Kesehatan dan Makanan) divonis Juli 2007 karena suap USD 850.000 sebagai imbalan untuk menyetujui obat belum teruji dan obat-obatan palsu. Chen Tonghai (mantan Ketua China Petroleum and Chemical Corporation) divonis Juli 2009 karena suap lebih dari USD 28 juta. Li Pelying (mantan Presiden Capital Airports Holding Company) divonis Agustus 2009 karena suap sebesar USD 4,1 juta. Wen Qiang (mantan wakil kepala polisi dan kepala keadilan di Chongqing) divonis pada Juli 2010 karena menerima suap untuk melindungi “gangster”. Zhang Chunjiang (mantan petinggi China Mobile) divonis pada Juli 2011 karena suap sebesar USD 1.150.000.

Pada Desember 2011, James Block Zagel (hakim yang bertugas pengadilan di Negara Bagian Illinois) menjatuhkan hukuman 14 tahun penjara terhadap Rod R Blagojevich (Gubernur Illinois ke-40 periode 13 Januari 2003–29 Januari 2009). Blagojevich diputus bersalah oleh para juri dalam 18 kasus korupsi termasuk berusaha “menjual” kursi senator di Amerika Serikat yang kosong setelah ditinggalkan Barack Obama dengan imbalan jabatan kabinet di Washington. Blagojevich juga berusaha memaksa pemilik surat kabar The Chicago Tribune memecat para wartawannya yang kritis terhadap berbagai kebijakan selama menjabat gubernur di Illinois.
Blagojevich didakwa oleh juri agung federal pada bulan April 2009 dan dinyatakan bersalah pada 17 Agustus 2010. Pada 27 Juni 2011, jaksa menemukan dari 17 dari 20 tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Dia ditemukan bersalah atas semua tuduhan yang berkaitan dengan kursi senat dan suap. Pada Rabu, 7 Desember 2011, Blagojevich dijatuhi hukuman 14 tahun di penjara federal. Berdasarkan aturan federal, Blagojevich akan menjalani 85% atau 12 tahun dari masa hukumannya. Dia akan mulai menjalani masa hukuman pada tanggal 16 Februari 2012.

Sebelum dijatuhi hukuman, sejumlah tokoh nasional seperti Barack Obama ( Presiden Amerika Serikat ke-44), Dick Durbin (Senator Amerika Serikat untuk Illinois), Patrick Joseph “Pat” Quinn III (Gubernur Illionois ke-41, penggantinya), dan Howard Brush Dean III (Gubenur Vermont ke-79 periode 14 Agustus 1991–8 Januari 2003) menyerukan pengunduran dirinya sebagai gubernur. Seruan pengunduran diri juga disuarakan oleh sejumlah tokoh Partai Republik dan Demokrat di Amerika Serikat.

Hukuman bagi Blagojevich merupakan hukuman terberat dibandingkan para pendahulunya. Lima dari sembilan gubernur terakhir yang memimpin Illinois dihukum penjara karena korupsi, termasuk George Homer Ryan Sr (Gubernur ke-39 periode 11 Januari 1999–13 Januari 2003). Karir politik Ryan rusak oleh skandal suap sejumlah perizinan oleh pemerintah. Ryan memilih tidak mencalonkan diri untuk dipilih kembali pada tahun 2002. Sebanyak 79 mantan pejabat negara, pelobi, dan lain-lain telah dimintai keterangan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 76 orang dijatuhi hukuman.

Skandal korupsi yang menyebabkan kejatuhan Ryan dimulai penyelidikannya oleh hukum federal satu dekade sebelumnya atas kasus kecelakaan mematikan di Wisconsin yang menewaskan enam anak dari Rev Duane “Scott” Willis dan istrinya, Janet. Penyelidikan menunjukkan bahwa sekretaris Ryan yang mengemudikan truk tidak mengantongsi SIM (Surat Ijin Mengemudi) seperti yang disyaratkan seorang pengemudi di jalanan. Associated Press menulis dalam laporannya, “Penyelidikan dilakukan selama delapan tahun dan menjadi sebuah investigasi korupsi yang panjang hingga akhirnya menyebut nama Ryan yang menjabat gubernur.”

Pada Maret 2003, Scott Fawell yang menjadi manajer kampanye dan pernah menjadi kepala staf Ryan dihukum bersama atas tuduhan pemerasan dan penipuan terhadap dana kampanye Ryan. Mantan wakil manajer kampanye, Richard Juliano mengaku bersalah atas tuduhan terkait dan bersaksi di pengadilan melawan Fawell. Penyelidikan akhirnya mengarah pada seorang mantan gubernur. Pada Desember 2003, Ryan dan pelobi Lawrence Warner dijadikan terdakwa sebanyak 22 kasus hukum federal. Kasus tersebut termasuk pemerasan, penyuapan, pemerasan, pencucian uang, dan penipuan pajak. Dalam surat dakwaan menuduh bahwa Ryan mengarahkan kontrak beberapa negara yang menguntungkan segelintir orang. Ryan dituduh berbohong kepada penyelidik dan menerima uang tunai, sejumlah hadiah, dan pinjaman sebagai imbalan atas kebijakannya sebagai gubernur. Akhirnya, pada akhir tahun 2005, kasus tersebut sampai ke pengadilan.

Pada tanggal 17 April 2006, hakim menemukan tindakan menyimpang yang dilakukan Ryan dan koleganya. Pada tanggal 6 September 2006, Ryan dijatuhi hukuman dan diharuskan menjalaninya selama 6,5 tahun hukuman penjara. Ryan dijebloskan ke penjara pada tanggal 4 Januari 2007, tetapi pengadilan banding memberikan keringanan dengan bebas bersyarat. Putusan kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Banding Sirkuit Ketujuh pada 21 Agustus 2007 dan review oleh Sirkuit Ketujuh menolak pada 25 Oktober 2007. Sirkuit Ketujuh kemudian menolak upaya Ryan untuk tetap bebas ketika Mahkamah Agung Amerika Serikat belum menjatuhkan putusan tetap yang terbukti bersalah. Akhirnya, Mahkamah Agung menolak perpanjangan jaminan dan Ryan dijebloskan ke Kamp Penjara Federal di Oxford (Wisconsin) pada tanggal 7 November 2007. Pada 29 Februari 2008, dia dipindahkan dengan fasilitas keamanan menengah di Terre Haute (Indiana) setelah Oxford mengubah hukumannya karena alasan kesehatan bagi tahanan di atas 70 tahun. Ryan terdaftar sebagai tahanan federal dengan nomor 16627-424 dan dijadwalkan pembebasannya pada 4 Juli 2013.

Korupsi di Indonesia
Seorang wartawan bercerita bahwa suatu kali ketika sedang terjebak oleh kerumunan orang di antrean Bus Transjakarta (Busway) menuju arah Terminal Pulo Gadung, dia memaksa diri mengikuti anteran panjang di halte Busway Dukuh Atas. Ketika tiba giliran untuk maju, dengan santainya, wartawan ini melangkahkan kaki tidak seperti para antrean lainnya yaitu dengan cepat-cepat merapat tetapi dengan irama yang telah diaturnya sendiri. Dia santai saja. Siapa pun yang mendahuluinya dipersilahkan. Setelah mencoba menghitung sejak orang pertama yang mendahuluinya hingga menjelang antrian di pintu masuk ke dalam bus, tidak kurang 30 orang sudah mendahuluinya. Ternyata, dengan orang pertama yang mendahuluinya dengan sang wartawan tersebut bisa naik Bus Transjakarta dalam satu kendaraan. Hebatnya, sang wartawan juga tidak tidak mendapat tempat berdiri tetapi dapat menikmati tempat duduk yang agak eksklusif itu. Di akhir cerita sang wartawan bertanya, siapa yang pintar? Apakah dia sebagai orang Jawa yang terkenal agak membutuhkan waktu lebih ketika melakukan sesuatu. Ternyata tidak? Jawa (Indonesia) asli adalah orang atau keturunannya. Namanya mengambil nama dari bahasa atau tokoh Yunani. Dia berpikir mengikuti cara orang Jerman, sehingga mampu melontarkan sejumlah gagasan kreatif. Menghargai orang lain sudah menghindarkan diri dari perbuatan korupsi. Hebat benar si wartawan ini.

Di satu sisi, pemerintah DKI Jakarta telah menerbitkan peraturan untuk tidak merokok di dalam ruangan. Ternyata, di mall-mall atau pusat-pusat  perbelanjaan dan kendaraan-kendaraan umum serta perkantoran ekslusif di Jakarta masih sangat sering didapati orang-orang yang merokok di dalam gedung yang berpendingin udara (AC). Di Gedung MPR/DPR/DPD sejumlah puntung rokok bertebaran di mana-mana. Bahkan, suatu kali wartawan menginformasikan kepada saya, ketika sedang menjalani tugas jousnalistik, dia mendapati tiga orang anggota DPR sedang merokok di dalam ruang rapat Komisi saat rapat dengar pendapat segera digelar.

Tindakan anggota dewan dan banyak orang yang mencoba menantang peraturan pemerintah tersebut sudah termasuk korupsi tempat. Tak heran jika pada tahun 2011, majalah Forbes menyusun daftar dan menempatkan para pengusaha rokok berada di posisi teratas dalam hal kekayaan. Bagi saya, memproduksi rokok dan turunannya turut menyebarkan benih-benih korupsi. Selain korupsi tempat (karena merokok tidak pada tempatnya juga berpotensi menyuap pengelola negara dengan kekayaan yang dimiliki pengusaha rokok). Kabarnya, peredaran uang dari rokok di Jakarta per hari mencapai Rp 5 miliar. Berapa nilai edar dalam sebulan, setahun, hingga satu periode kepemimpinan seorang pejabat daerah seperti gubernur? Tak heran jika sejumlah calon berlomba-lomba untuk maju dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta pada tahun 2012. Jika yang mengaku ahli saja tak sanggup menghindarkan korupsi yang terjadi pantas dipertanyakan dimana letak keahliannya. Tetapi jika ingin kaya, tirulah pendiri Facebook yang dalam beberapa tahun saja kekayaannya telah mencapai Rp 800 triliun. Di mana kunci sukses pendiri Facebook? Kuncinya tidak lain adalah faktor memberi atau amal. Pernahkah di antara para pengguna Facebook ditarik iuran ketika Facebooknya akan diaktifkan? Lebih sering memberi akan mendekatkan seseorang pada kekayaan, setidaknya telah kaya hati. Lebih sering memikirkan diri sendiri mendekatkan seseorang pada tindakan korupsi di berbagai sendi kehidupan.

Korupsi di jalan? Wow, sangat mencolok terlihat. Jalan yang sudah diatur oleh petugas jalan raya dipergunakan para pengendara dengan seenaknya. Jalur yang seharusnya diperuntukkan untuk kendaraan beroda empat atau Bus Transjakarta tetap dilalui pengguna kendaraan beroda dua. Seringnya terjadi kecelakaan sehingga mengakibatkan seseorang meninggal tak membuat pengendara lain untuk tunduk pada peraturan tetapi justru seperti menantang aparat. Sementara, para aparat yang tidak menegakkan disiplin juga dapat digolongkan korupsi karena tidak menjalankan tugas yang diberikan negara dengan baik.

Demi meminimalisir tindakan korupsi, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md melontarkan gagasan untuk membangun “kebun koruptor”. Calon pemimpin KPK, Bambang Widjojanto menyatakan setuju dengan gagasan tersebut. Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mendukung usulan itu. “Pendeknya, mereka harus menjalani neraka dunia karena telah menjadi koruptor,” kata Din Syamsudin seperti dikutip Koran Seputar Indonesia edisi Selasa, 29 November 2011. Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo mengatakan, hukuman efektif untuk para koruptor adalah dengan menyita harta kekayaannya. Dengan pemiskinan, koruptor tidak tidak lagi mempunyai harta sehingga menderita pada sisa hidupnya. “Aparat hanya perlu menyita hartanya,” kata Bambang Soesatyo dalam kutipannya dengan wartawan.

Penangkapan terhadap Muhammad Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat yang ketika itu masih menjabat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 di Kolumbia pada 7 Agustus 2011 bukan menyiutkan nyali bagi pelaku-pelaku korupsi dan suap di Indonesia untuk menyerahkan diri kepada aparat penegak hukum. Potret hampir serupa ditunjukkan saat penangkapan Nunun Nurbaetie di Thailand dengan mengenakan kerudung di kepala, kacamata hitam, dan memakai masker di mulut. Nunun menyembunyikan diri dari Indonesia karena dikejar aparat Komisi Pemberantaran Korupsi (KPK) akibat sejumlah cek yang diterima oleh anggota-anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004.

Teladan untuk berlaku tidak korupsi sebenarnya sudah didengungkan oleh Bapak Pendiri Bangsa Indonesia, Soekarno. Peringatan semacam itu telah disampaikan melalui lagu khas daerah Jawa yang berjudul “Kuwi Apa Kuwi” (Itu Apa Itu atau Apakah Itu?). Seorang wartawan menginformasikan kepada saya, bahwa pesan moral Presiden Republik Indonesia pertama tersebut dikumandangkan pada sebuah pagelaran wayang kulit di komplek MPR/DPR/DPD-RI beberapa waktu lalu. Ketika itu, seorang penyanyi Jawa (disebut Sinden) menyanyikan lagu karya Soekarno dalam empat versi bahasa, yaitu Jawa, Indonesia, Inggris, Jepang, dan Arab. Di tengah syair tersirat agar segenap anak bangsa untuk tidak melakukan korupsi, karena hal itu akan menghancurkan negara.

Meluruskan pohon yang sudah bertumbuh puluhan tahun perlu usaha sangat keras. Meski akar pohon yang berumur ratusan atau ribuan tahun sudah menembus berjuta-juta lapisan tanah dan batu keras pun, pada akhirnya mati karena usia. Tetapi, ketika moral manusia sudah mengakar hingga turun generasi ke generasi yang saling sambung menyambung tidak mudah untuk diluruskan. Langkah ekstrim, misalnya melenyapkan satu atau dua generasi pun tidak menjamin untuk berubah menjadi karakter yang baik. Yang perlu hanya satu, pemimpin tegas menegakkan hukum-hukum kebenaran dan keadilan bagi segenap elemen berbangsa dan bernegara. Ketika peraturan sudah dibuat hendaknya dijalankan dengan sebenar-benarnya, bukan seperti pedang yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Pedang itu harus bermata dua, ke bawah tajam dan ke atas justru lebih tajam lagi karena yang di atas adalah pengemban amanat Tuhan. Para pengelola negara harus paham betul bahwa mereka adalah wakil Tuhan di bumi ini. Ketika mereka tidak menjalankan dengan betul, maka Tuhan akan menuntut pertanggungjawabannya kelak.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 April 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: