RSS

Perdana Menteri Belgia Dua Periode

Yves Leterme

Yves Leterme. Sumber Foto: Wikipedia

Tanpa Pucuk Pimpinan Pun Pemerintahan Tetap Berjalan

Yves Leterme (lengkapnya, Yves Camille Désiré Leterme) lahir di kota Wervik (Provinsi Flanders Barat) 6 Oktober 1960. Pada tahun 1981, dia meraih gelar LL.B bidang hukum di Universitas Katolik Leuven. Kemudian, dia memperoleh gelar B.Sc bidang Ilmu Politik di Universitas Ghent (1983), gelar LL.M (1984), dan gelar MPA (1985). Ia menikah dengan Sofie Haesen.

Sebelum memasuki dunia politik nasional, Leterme menjadi auditor di Pengadilan Audit. Dia kemudian menjadi asisten dan sekretaris nasional Partai Rakyat Kristen (CVP: Christian People’s Party atau Christelijke Volkspartij) yang kemudian menjadi Kristen Demokrat dan Flemish (CD&V: the Christian Democratic and Flemish atau Christen-Democratisch en Vlaams hingga mengundurkan diri untuk menjadi pegawai negeri sipil di Uni Eropa. Pada tahun 1997, ia mengambil cuti tak terbatas dari posisinya ketika diangkat menjadi Anggota Parlemen Belgia. Ia telah menjadi anggota dewan kota Ypres sejak tahun 1995 dan menjabat sebagai anggota dewan kotapraja Ypres pada periode 1995-2001.

Pada tahun 1997, dia diangkat menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Belgia. Ia terpilih kembali pada tahun 1999 dan 2003. Setelah kekalahan CD & V dalam pemilihan umum tahun 2003, ia berhasil menggeser Stefaan De Clerck sebagai ketua partai dan menjabat Menteri-Presiden Flanders selama periode 20 Juli 2004-28 Juli 2007. Selama masa jabatannya, Flanders mengalami peningkatan ekonomi. Ia mendirikan kursus pragmatis untuk meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi secara dinamis. Leterme membuat pemerintah Flemish ke dalam ‘investasi pemerintah’ dengan memfokuskan investasi pada infrastruktur dan logistik sehubungan dengan iklim bisnis dan kesejahteraan sosial, terutama Area Pelabuhan Flanders, perawatan rumah sakit, dan integrasi imigran. Selain itu, pemerintahan Leterme melaksanakan anggaran ketat. Kebijakan pemerintahannya yang dimulai dengan utang cukup besar di Flanders secara implisit telah dikurangi menjadi nol.

Pada 6 Mei 2007, secara resmi, ia mengumumkan pencalonannya dalam pemilihan umum tanggal 10 Juni 2007. Leterme mendapatkan 796.521 suara. Raihan suara itu merupakan jumlah terbesar kedua yang pernah diperoleh seorang calon dalam sejarah pemilu Belgia. Pada 21 Desember 2007, ia menjadi Wakil Perdana Menteri Belgia dan Menteri Anggaran, Transportasi, Reformasi Kelembagaan dan Laut Utara. Dia difavoritkan untuk menjadi Perdana Menteri Belgia setelah Pemilu 2007.

Dari 16 Juli-23 Agustus 2007, dia memimpin pembicaraan koalisi formal untuk membentuk pemerintahan. Namun, negosiasi reformasi konstitusi menemui kegagalan. Pada tanggal 23 Agustus itu, dia mengundurkan diri sebagai formatur. Pada tanggal 29 September, Herman Van Rompuy mencoba menjalani proses koalisi dan mempresentasikan laporan terakhir kepada Raja. Saat itu, Raja Albert II kembali mengangkat Leterme sebagai formatur. Pada tanggal 7 November, pihaknya mengambil inisiatif dan menerima perwakilan Flemish untuk memilih bernegpsiasi pada aspek pemisahan wilayah pemilihan Brussels-Halle-Vilvoorde yang sangat ditentang masyarakat Francophone.

Pada 1 Desember, Leterme kembali mengajukan pengunduran diri kepada Raja. Pengunduran dirinya dilakukan setelah perundingan koalisi gagal mencapai kesepakatan tentang beberapa isu. Pemerintah sementara di bawah pimpinan Guy Verhofstadt pun dilantik pada tanggal 21 Desember 2007. Dalam pemerintahan tersebut, Leterme menjabat Wakil Perdana Menteri dan Menteri Anggaran, Reformasi Kelembagaan, dan Transportasi. Dia dipersiapkan untuk menjadi Perdana Menteri dalam pemerintahan bulan Maret 2008.

Ketidakpastian politik Belgia lebih dikuatirkan ketika Yves Leterme masuk rumah sakit pada 14 Februari 2008. Sebuah rumor menyatakan bahwa ia menderita hepatitis dan secara resmi dibantah oleh juru bicaranya. Kemudian, diungkapkan bahwa ia telah menderita perdarahan internal di saluran pencernaan. Tugas-tugasnya sebagai Menteri Anggaran dan Reformasi Kelembagaan untuk sementara waktu diambil alih oleh Jo Vandeurzen (CD & V) yang juga menjabat Menteri Kehakiman (21 Desember 2007-22 Desember 2008).

Pada tanggal 18 Maret 2008 diumumkan kesepakatan lima partai untuk pembentukan pemerintahan. Leterme disumpah sebagai Perdana Menteri pada tanggal 20 Maret 2008 dan pemerintahannya disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Belgia pada tanggal 22 Maret, dengan dukungan 97 suara, 48 suara menentang, dan satu abstain. Periode pertama pemerintahan Leterme sebagai Perdana Menteri Belgia ke-37 berlangsung pada 20 Maret 2008-30 Desember 2008.

Isu prioritas Leterme berkisar pada pelimpahan kekuasaan lebih lanjut ke daerah Belgia yang membutuhkan amandemen konstitusi nasional dan ketidakpuasan menyelesaikan status administratif di distrik Brussel-Halle-Vilvoorde. Dia menetapkan batas waktu 15 Juli 2008 untuk mencapai tujuan tersebut. Tenggat waktu pun kemudian tidak terpenuhi. Pada tanggal 15 Juli 2008, Raja Albert II mengeluarkan komunike yang menawarkan pengunduran diri Leterme kepada raja. Raja pun mengadakan konsultasi dengan para pemimpin partai politik, asosiasi pengusaha, dan serikat perdagangan.

Seiring dengan rekan-rekannya di Belanda dan Luksemburg, Leterme memutuskan untuk menasionalisasi perusahaan jasa keuangan yang tidak sehat. Perusahaan ini dibagi dan dijual pemerintah Belgia di negara bagian kepada bank Prancis BNP Paribas. Para pemegang saham yang tidak berkonsultasi dalam penjualan menggugat negara bagian. Meskipun pada awalnya pemerintah menang, di tingkat banding Pengadilan Tinggi membalikkan putusan pengadilan lebih rendah dan memerintahkan pembekuan penjualan. Setelah vonis, Londers Ghislain Presiden Pertama Pengadilan Kasasi menunjukkan bukti bahwa pejabat pemerintah telah mencoba untuk mempengaruhi para hakim. Leterme mengajukan pengunduran diri dan pemerintah pada 19 Desember 2008 dan diterima oleh Raja Albert II pada tanggal 22 Desember.

Dengan perombakan  kabinet pemerintah pada 17 Juli 2009, Leterme menggantikan Karel De Gucht yang menjadi Komisioner Eropa sebagai menteri urusan luar negeri dalam Pemerintahan Van Rompuy I. Setelah penugasan Van Rompuy sebagai Presiden Dewan Eropa, Leterme sekali lagi menjadi Perdana Menteri Belgia sejak 25 November 2009. Posisinya sebagai Menteri Luar Negeri diserahkan kepada Steven Vanackere.
Dalam negosiasi yang rumit mengenai unit pemilu dwibahasa Brussels-Halle-Vilvoorde di Brussel, ibukota Belgia tanpa batas waktu yang ditetapkan oleh pemerintahan partai VLD Terbuka tidak terpenuhi. Kembali, pada 22 April 2010, Leterme mengajukan pengunduran diri.

Setelah menghadapi kegagalan memenuhi tenggat waktu yang diberikan memberlakukan “reformasi konstitusional” yang terdiri dari pelimpahan kekuasaan lebih lanjut untuk tiga bangsa masyarakat linguistik, Yves Leterme mengajukan pengunduran diri kepada Raja Albert II dari Belgia pada 14 Juli 2008. Setelah mengadakan konsultasi dengan para pemimpin partai politik, serikat buruh, dan asosiasi penguasaha, pada tanggal 17 Juli 2008, sebagai kepala negara, Raja Albert menolak pengunduran dirinya. Sebaliknya, raja menunjuk sebuah komisi tiga orang perwakilan masyarakat linguistik untuk menyelidiki bagaimana memulai proses reformasi. Komisi yang dibentuk melaporkan hasil kinerja kepada raja pada tanggal 31 Juli 2008.

Pada 19 Desember 2008, Leterme menawarkan pengunduran diri kepada Raja Albert II setelah krisis seputar penjualan Fortis ke BNP Paribas. Pada 22 Desember 2008, Raja Albert II menerima pengunduran diri Leterme bersama dengan seluruh pemerintahannya. Tetapi, dia tetap menjabat Perdana Menteri sampai 30 Desember 2008, ketika Herman Van Rompuy diangkat sebagai penggantinya. Pengumuman pada tanggal 24 November 2009 menyatakan bahwa Leterme akan menjabat Perdana Menteri kembali ketika Van Rompuy dipilih menjadi Presiden Dewan Eropa sejak 1 Desember 2009.

Sekali lagi, pada tanggal 22 April 2010, dia kembali mengajukan pengunduran diri kepada Raja Albert II setelah Flemish membuka diri untuk menarik dukungan bagi Liberal dan Demokrat Flemish Terbuka (Open Vlaamse Liberalen en Democraten atau Open Flemish Liberals and Democrats) bagi koalisi pemerintah. Sejak pemilihan umum yang dilangsungkan pada Minggu, 10 Juni 2007, partai politik Belgia terus menegosiasikan sebuah koalisi pemerintahan. Leterme tetap didapuk sebagai Perdana Menteri sementara. Tetapi pada 13 September 2011, Leterme mengumumkan akan meninggalkan jabatan itu pada akhir tahun 2011 untuk mengambil posisi Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi Eropa (OECD: Organisation for Economic Co-operation and Development) di Paris, Perancis.

Langkah Leterme tentu membuat Belgia semakin tenggelam dalam krisis politik yang sudah berlangsung hampir 16 bulan. Belgia tidak memiliki pemerintahan pusat sejak pemilu terakhir yang diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 2010. Pemilu gagal karena perpecahan partai politik, terutama partai politik pengusung calon perdana menteri selaku kepala pemerintahan. Dari seluruh 150 kursi di Dewan Perwakilan Belgia, setidaknya 76 kursi yang diperlukan untuk memegang mayoritas pemerintahan. Tiga partai politik pemenang pemilu 2010 adalah Aliansi Flemish Baru (Nieuw-Vlaamse Alliantie atau New Flemish Alliance) pimpinan Bart De Wever dengan 1.135.617 (17,4%) suara, Partai Sosialis (PS: Parti Socialiste atau the Socialist Party) pimpinan Elio Di Rupo yang meraih 894.543 (13,7%) suara, dan Kristen Demokrat danb Flemish (CD&V: Christen-Democratisch en Vlaams atau the Christian Democratic and Flemish) pimpinan Marianne Thyssen dengan raihan 707.986 (10,85%) suara. Dengan pemerintahan yang tidak terbentuk, Leterme telah menjabat perdana menteri kemudian ditunjuk untuk melanjutkan kepemimpinan dalam pemerintahan.

Akar kemelut politik terletak pada perbedaan kepentingan politisi berbahasa Belanda di utara (Flemish) dan berbahasa Perancis di selatan (Wallon). Guinness Book of World Records mencatat, Belgia telah menjadi satu-satunya negara modern dengan waktu terlama tanpa pemerintah sah hasil pemilu. Meski tanpa pemerintah pusat yang sah, pembangunan tetap berjalan baik. Guncangan politik Belgia memiliki sejarah panjang. Pada abad XIX, kelompok selatan yang kaya raya memperlakukan warga di utara sebagai warga kelas dua. Belakangan, kehidupan ekonomi membaik di utara, sementara warga di selatan menjadi kurang beruntung secara ekonomi. Setelah Perang Dunia II, politik Belgia membaik dengan diberlakukannya ekonomi atas dua kelompok tersebut. Hubungan keduanya semakin membaik. Proses reformasi konstitusi yang terjadi pada tahun 1970-an dan 1980-an membentuk pemerintah yang mengayomi semuanya demi menghindarkan konflik bahasa, kultural, sosial, dan ekonomi. (wkd/Epaphroditus Ph. M.)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: