RSS

Presiden Liberia

Presiden Pertama Wanita Peraih Nobel Perdamaian

Presiden incumbent Ellen Johnson Sirleaf meraih masa jabatan kepresidenan kedua setelah memenangi putaran kedua Pemilihan Umum Liberia tanggal 8 November 2011 dengan 607.618 (90,7%) suara. Sementara, saingannya Joseph Boakai yang menuduh dicurangi mendapatkan 62.207 (9,3%) dari total 669.825 suara dengan tingkat partisipasi pemilih mencapai 38,6% (turun jauh dibanding pelaksanaan pemilu putaran pertama yang mencapai 71,6%) pemilih. Calon presiden yang dikalahkan pada pemilu presiden tahun 2005, George Weah kembali dikalahkan pada pemilu kali ini meski dia bergeser posisi ke calon wakil presiden.
Pada putaran pertama pemilu presiden tanggal 11 Oktober 2011, calon presiden dari Partai Persatuan (Unity Party) ini memperoleh 530.020 (43,9%) dari total pemilih mencapai  1.288.716 suara. Sebanyak 82.074 (6,4%) suara dinyatakan tidak sah atau kosong dengan partisipasi pemilih mencapai 76%. Pada putaran pertama, Joseph Boakai yang diusung Kongres untuk Perubahan Demokratik (Congress for Democratic Change) meraih 394.370 (32,7%). Selain dua nama peraih suara teratas tersebut, pemilu presiden putaran pertama diikuti oleh 14 calon lain termasuk Charles Brumskine (calon presiden tahun 2005) dan Prince Yormie Johnson yang memainkana peran penting dalam penangkapan dan pengeksekusi Samuel Doe (6 Mei 1951–9 September 1990, Presiden Liberia ke-21 periode 6 Januari 1986–9 September 1990).

Sosok Ellen Johnson Sirleaf
Ia lahir di Monrovia (Liberia) pada tanggal 29 Oktober 1938. Meskipun bukan keturunan Liberia-Amerika, oleh beberapa pengamat, Sirleaf dianggap memiliki budaya tersebut. Tetapi, dia tidak mengidentifikasi seperti itu. Latar belakang kesukuannya adalah 1/2 Gola dari sisi sang ayah, 1/4 Jerman (kakek), dan 1/4 Kru (nenek) dari sang ibu.

Ayahnya, Jahmale Carney Johnson lahir di daerah pedesaan yang penuh derita kemiskinan. Ayahnya merupakan anak dari seorang kepala Gola kecil bernama Jahmale dari salah seorang istrinya, Jenneh di Julijuah (Bomi County). Ayahnya, kemudian ke Monrovia dan mengubah nama terakhir menjadi Johnson karena loyalitas ayahnya kepada Hilary Richard Wright Johnson ((1 Juni 1837–1900, Presiden Liberia ke-11 periode 7 Januari 1884–4 Januari 1892 yang merupakan presiden pertama kelahiran Liberia). Ayahnya dibesarkan di Monrovia dan dididik oleh keluarga Liberia-Amerika yang bernama keluarga McGritty. Ayahnya kemudian menjadi seorang Liberia pertama dari sebuah kelompok etnis pribumi yang duduk di legislatif nasional.
Sementara, ibunya juga lahir dalam kemiskinan di Greenville (Liberia). Neneknya, Juah Sarwee dikirim ibunya ke Monrovia ketika kakek yang keturunan Jerman telah meninggalkan setelah Liberia menyatakan perang terhadap Jerman pada Perang Dunia I. Seorang anggota keluarga Liberia-Amerika terkemuka, Cecilia Dunbar diadopsi dan mengangkat ibunya ketika itu.

Sirleaf belajar ekonomi dan rekening di College of West Africa di Monrovia selama periode 1948-1955. Pada 1956, dia menikah dengan James Sirleaf ketika berusia 17 tahun dan cerai. Sirleaf kemudian menjadi ibu dari empat anak laki-laki dan memiliki delapan cucu. Keponakannya yang paling  besar, Emmanuel Sumana Elsar Sr menjadi penasihat politiknya selama pemilu presiden 2005 ketika melawan George Weah.

Pada tahun 1961, dia melanjutkan studi dan memperoleh gelar akuntansi di Madison Business College (kemudian menjadi Universitas Wisconsin) di Madison, Amerika Serikat. Pada tahun 1970, ia belajar di Institut Ekonomi di musim panas untuk mengambil program di Departemen Ekonomi di Universitas Colorado, Boulder. Sirleaf belajar ekonomi dan kebijakan publik di Harvard School John F. Kennedy of Government selama periode 1969-1971 untuk mendapatkan gelar Master Administrasi Publik. Kemudian, dia kembali ke tanah kelahirannya di Liberia untuk bekerja di bawah pemerintahan pimpinan William Richard Tolbert Jr atau dikenal William Tolbert (13 Mei 1913–12 April 1980, Wakil Presiden Liberia ke-23 periode 1 Januari 1952–23 Juli 1971 dan Presiden Liberia ke-20 periode 23 Juli 1971–12 April 1980).

Ia menjabat Asisten Menteri Keuangan di bawah pemerintahan Tolbert selama periode 1972-1973. Setelah berbeda pendapat seputar belanja negara, dia pun memilih mengundurkan diri dari jabatannya. Kemudian, dia menjabat Menteri Keuangan selama periode 1979-April 1980. Sersan Samuel Doe yang merupakan anggota kelompok etnis adat Krahn kemudian merebut kekuasaan dalam sebuah kudeta militer pada 12 April 1980. Dalam kudeta itu, Presiden Tolbert mengalami pembunuhan. Kecuali empat anggota kabinet Presiden Tolbert, semua dieksekusi oleh regu tembak otoritas Doe. Dewan Penebusan Rakyat (People’s Redemption Council) kemudian mengambil alih negara dan memimpin pembersihan terhadap mantan anggota pemerintahan. Semula, Sirleaf diterima di pos pemerintahan baru sebagai Presiden Bank Liberia untuk Pembangunan dan Investasi meski ia melarikan diri negaranya pada November 1980 setelah mengkritik Doe dan Dewan Penebusan Rakyat di depan publik dalam masalah manajemen negara.

Sirleaf pindah ke Washington DC untuk bekerja di Bank Dunia sebelum pindah ke Nairobi pada tahun 1981 untuk menjadi Wakil Presiden Kantor Wilayah Citibank Afrika. Pada 1985, dia mengundurkan diri dari Citibank ketika dicalonkan Partai Aksi Liberia (Liberian Action Party) pada pemilihan umum Liberia tahun 1985. Pada Agustus 1985, dia dikenai tahanan rumah dan dihukum selama sepuluh tahun penjara karena dugaan menghasut dalam sebuah pidato yang dianggap menghina anggota rezim Doe. Setelah berbagai tekanan internasional untuk pembebasannya, Doe memberikan pengampunan pada September 1985. Karena tekanan pemerintah, dia mengundurkan diri dari pencalonan presiden dan tidak maju dalam pemilihan kursi Senat dari Montserrado County. Ia kemudian bekerja di Bank Khatulistiwa (Equator Bank), sebuah anak perusahaan dari HSBC.

Meski Doe dan Partai Demokrat Nasional (National Democratic Party) memenangkan pemilu presiden dan mayoritas, secara luas dipandang tidak bebas dan tidak cukup adil. Sirleaf menyatakan sebagai pemenang ras Senat dan menolak menerima kursi sebagai protes terhadap kecurangan pemilu. Setelah usaha kudeta terhadap pemerintahan Doe oleh Thomas Quiwonkpa (Komandan Jenderal Angkatan Bersenjata Liberia dan pendiri Front Patriotik Nasional Liberia) pada 12 November 1985, Sirleaf ditangkap dan dipenjarakan kembali pada 13 November 1985 oleh pasukan Doe. Meski terus menolak menerima kursi Senat, dia dibebaskan pada bulan Juli 1986 dan diam-diam melarikan diri ke Amerika Serikat akhir tahun itu.

Berkecamuknya Perang Saudara Liberia Pertama pada tahun 1989, Sirleaf semula mendukung pemberontakan Charles McArthur Ghankay Taylor atau dikenal Charles Taylor (Presiden Liberia ke-22 periode 2 Agustus 1997–11 Agustus 2003) yang melawan rezim Doe. Ia membantu mengumpulkan dana bagi perjuangan Charles Taylor. Kemudian, dia berbalik melawan Taylor. Pada tahun 1992, Sirleaf diangkat menjadi Asisten Administrator, kemudian Direktur, Biro Regional Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Afrika. Pada tahun 1996, pasukan penjaga perdamaian Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS: Economic Community of West African States) diizinkan untuk menghentikan permusuhan. Sehingga, pada pemilihan umum 1997, Sirleaf kembali ke Liberia untuk berpartisipasi dalam pencalonan. Sebagai calon presiden Partai Persatuan, dia menempati urutan kedua dalam pemilu 19 Juli 1997 yang penuh kontroversi tersebut. Akibatnya, dia hanya meraih 59.557 (9,58%), sedang Charles Taylor mendapatkan 468.443 (75,33%). Sebelas calon presiden lainnya hanya meraih kurang dari 5% suara. Sirleaf meninggalkan negaranya segera setelah pemilu dan kembali ke pengasingan di Abidjan.

Selama penugasannya di Perserikatan Bangsa-bangsa, ia menjadi seorang dari tujuh orang terkemuka internasional. Pada 1999, ia ditunjuk Organisasi Persatuan Afrika untuk menyelidiki genosida Rwanda. Dialah salah seorang dari lima Kursi Komisi Dialog Antar-Kongo. Dia juga salah seorang dari dua ahli internasional yang dipilih Dana Pembangunan PBB untuk Perempuan (UNIFEM: United Nations Development Fund for Women) untuk menyelidiki dan melaporkan pengaruh konflik terhadap perempuan dan peran perempuan dalam membangun perdamaian. Dia juga Ketua Inisiatif Masyarakat Terbuka untuk Afrika Barat (OSIWA: Open Society Initiative for West Africa ) dan kunjungan Profesor di Institut Pemerintahan Manajemen dan Administrasi Publik Ghana (GIMPA: Ghana Institute of Management and Public Administration).

Setelah Perang Sipil Liberia II berakhir dan pemerintahan transisi terbentuk, Sirleaf diusulkan sebagai calon pemimpin pemerintahan. Pada akhirnya, Charles Gyude Bryant atau dikenal Gyude Bryant (Pemimpin Pemerintahan Transisi Liberia selama periode 14 Oktober 2003–16 Januari 2006) yang netral dalam politik dipilih sebagai Ketua Pemerintahan Transisi. Sedang, Sirleaf menjabat Ketua Komisi Reformasi Pemerintahan. Sirleaf kembali menjadi calon presiden dari Partai Persatuan pada pemilihan umum 2005. Pada putaran pertama pemilu presiden tanggal 11 Oktober 2005, dia berada diurutan kedua dengan perolehan 192.326 (19,8%) di bawah perolehan suara George Weah yang mencapai 275.265 (28,3%). Selain dirinya dan Weah, pemilu putaran pertama 2005 diikuti oleh 20 calon lain dengan perolehan suara di bawah dari 15%.

Pada putaran kedua yang diselenggarakan tanggal 8 November 2005, Sirleaf meraih 478.526 (59,4%) suara, sedang Weah mendapatkan 327.046 (40,6%). Penolakan hasil pemilu oleh Weah membuat pengumuman pemimpin baru ditunda sampai penyelidikan lebih lanjut dilakukan. Akhirnya, pada tanggal 23 November 2005, Sirleaf dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilu dan ditetapkan sebagai presiden. Pelantikannya berlangsung pada tanggal 16 Januari 2006 dan dihadiri oleh pejabat asing, termasuk Condoleezza Rice (Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ke-66 periode 26 Januari 2005–20 Januari 2009) dan Laura Bush (Ibu Negara Amerika Serikat periode 20 Januari 2001–20  Januari 2009). Ia pun kemudian tercatat sebagai Presiden Liberia ke-24.

Pada Januari 2010, Sirleaf mengumumkan pencalonannya untuk jabatan kedua pada pemilihan presiden tahun 2011 dalam sesi pembicaraan bersama Legislatif. Menurut pemimpin oposisi, dia telah melanggar janji yang dibuat sebelum kampanye pemilu tahun 2005 bahwa dia hanya menjabat satu kali masa jabatan saja. Sirleaf kembali dicalonkan Partai Persatuan dalam konvensi nasional partai pada tanggal 31 Oktober 2010. Pada hari yang sama, Wakil Presiden Joseph Boakai dinominasikan menempati posisi yang sama oleh Sirleaf. Hal itu dikonfirmasi oleh para delegasi sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Pasangan ini pun kemudian memenangi pemilu dengan dua putaran.

Empat hari menjelang pelaksanaan putaran pertama pemilu presiden 2011, Presiden Sirleaf menerima penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian bersama tokoh wanita lain yaitu Leymah Roberta Gbowee asal Liberia dan Tawakel Karman dari Yaman. Ketiga wanita peraih nobel tersebut diakui sebagai “pejuang wanita tanoa kekerasan demi keselamatan perempuan dan hak-hak perempuan dalam berpartisipasi secara penuh di pembangunan perdamaian.” Sebelum meraih Nobel Perdamaian, Presiden Sirleaf telah menerima sejumlah penghargaan seperti Penerima Franklin dan Eleanor Roosevelt Institute Freedom of Speech Award (1988), Penghargaan Kepemimpinan Ralph Bunche Internasional, Bintang Besar Komando Penebusan Afrika di Liberia, Commandeur de l’Ordre du Togo (Komandan Orde Togo). Pada tahun 2006, dia meraih Penghargaan Common Ground Search for Common Ground, Hadiah Kepemimpinan Nobel Afrika Akhir Berkelanjutan Kelaparan untuk The Hunger Project, Distinguished Fellow dari Claus M Halle Institute for Global Learning Universitas Emory, Dokter Kehormatan Hukum dari Universitas Marquette, dan David Rockefeller Bridging Leadership Award dari Synergos.

Pada 2007, dia meraih Presidential Medal of Freedom. Ini merupakan penghargaan sipil tertinggi yang diberikan Amerika Serikat melalui Presiden George W Bush pada 5 November 2007. Pada 2008, dia menerima gelar Doktor Kehormatan dari Indiana University Hukum dan gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Brown Hukum. Pada 2009, dia menerima Penghargaan EITI untuk “kemajuan negara secara pesat terhadap pelaksanaan EITI” dan gelar Doktor Kehormatan Humane Letters dari Universitas Tampa. Pada 2010, dia menerima gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Yale Hukum, gelar Doktor Kehormatan Hukum dari Rutgers di Universitas Negara Bagian New Jersey, dan penghargaan Sahabat Media di Afrika Penghargaan dari Editor Uni Afrika serta gelar Hukum Doktor Kehormatan dari Universitas Harvard. Sebelum menerima Nobel Perdamaian 2011, dia telah meraih penghargaan Penghargaan Persamaan Hak Afrika. (wkd/Epaphroditus Ph. M.)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: