RSS

Presiden Maladewa

Waheed Hassan

Presiden Mohammed Waheed Hassan. Sumber Foto: thehindu.com

Pegawai Senior PBB ke Kursi Presiden Maladewa

Dengan raihan 44.293 (24,91%) dan 97.222 (53,65%), Mohamed Nasheed dari Partai Demokrat Maladewa (MDP: Maldivian Democratic Party) pimpinan Ibrahim Didi (Menteri Perikanan dan Pertanian periode 11 November 2008-10 Desember 2010) memenangi pemilu presiden demokratis pertama di negaranya. Melalui Pemilu dua putaran yang dilaksanakan pada 8 dan 28 Oktober 2008 itu, Nasheed unggul atas Maumoon Abdul Gayoom (Presiden ke-3 periode 11 November 1978–11 November 2008) dari Partai Rakyat Maladewa (Maldivian Peoples Party atau  Dhivehi Rayyithunge Party/DRP) pimpinan Ahmed Thasmeen Ali. Gayoom ketika itu meraih 71.731 (40,34%) dan 82.121 (45,32%) suara. Pemilu presiden tersebut diikuti tiga calon lainnya. Dengan total pemilih 177.802 dan 181.204 dan tingkat partisipasi pemilih mencapai 85,38% dan 86,58% serta sebanyak 1.235 (0,69%) dan 1.861 (1,03%) suara dinyatakan tidak valid atau kosong suara.

Dengan tingkat pemilih tersebut, mandat untuk presiden terpilih menjadi kuat. Tetapi, mandat yang dimulai sejak tanggal 11 November 2008 itu terhenti pada 7 Februari 2012. Sejumlah berita yang dilansir media cetak Indonesia seperti Kompas dan Koran Seputar Indonesia, Rabu, 8 Februari 2012 masing-masing menulis dengan judul “Nasheed Terancam Ditahan” dan “Polisi Kudeta Maladewa”. Aksi protes massa bermula dari perintah Nasheed terhadap Ketua Pengadilan Pidana, Abdullah Mohamed pada tanggal 16 Januari 2012. Sang hakim dituduh memihak dan mendukung tokoh-tokoh oposisi. Penangkapan terjadi setelah sang hakim membebaskan seorang kritikus pemerintah. Polisi Maladewa bergabung dengan pengunjuk rasa setelah menolak mengikuti perintah untuk menembak para demonstran. Bersama demonstran, polisi mengambil alih stasiun televisi milik negara dan menyiarkan dukungan mereka terhadap oposisi untuk melawan presiden. Tentara Maladewa kemudian bentrok dengan polisi dan para pemrotes lain yang mencoba menyerang markas besar Angkatan Pertahanan Nasional Maladewa (MNDF: Maldives National Defence Force). Akhirnya, beberapa tentara bergabung dengan polisi dan pengunjuk rasa.

Dalam pernyataan pengunduran diri, Presiden menyatakan, “I believe if I continue as the President of the Maldives, the people of the country would suffer more. I therefore have resigned as the President of Maldives. I wish the Maldives would have a consolidated democracy. I wish for justice to be established. My wish is for the progress and prosperity of the people. And I thank you all for your support and contributions to achieve success for the past three years” (Saya percaya jika terus sebagai Presiden Maladewa, warga negara akan lebih menderita. Karena itu, saya mengundurkan diri sebagai Presiden Maladewa. Saya berharap Maladewa akan memiliki demokrasi konsolidasi. Saya mengharapkan keadilan yang akan ditegakkan. Keinginan saya adalah untuk kemajuan dan kemakmuran rakyat. Dan saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kontribusi dalam mencapai keberhasilan selama tiga tahun terakhir). Tak lama setelah Nasheed meletakkan jabatan, Wakil Presiden Muhammad Waheed Hassan Manik dilantik sebagai Presiden Maladewa.

Mohammed Waheed Hassan Manik lahir di Malé (Maladewa) pada tanggal 3 Januari 1953. Dia adalah putra Hassan Ibrahim Maniku dan Aishath dari Silver Scene di Malé, ibukota Maladewa. Ia merupakan salah seorang dari sejumlah anak. Pada 1970-an, Waheed mendapat kesempatan belajar di Universitas Amerika di Beirut (AUB: American University of Beirut). Di sana, dia menyelesaikan pendidikan sarjana Bahasa Inggris. Ia juga menyelesaikan diploma untuk mengajar Bahasa Inggris. Pada tahun 1978, Waheed mendapatkan beasiswa penuh ke Stanford University. Dalam setahun, ia menyelesaikan gelar Master bidang Perencanaan Pendidikan dari Stanford University School of Education dan kembali ke Maladewa. Namun, pada tahun 1982, Waheed memilih kembali ke Stanford untuk melanjutkan studinya. Pada 1985, ia menerima gelar Master di bidang Ilmu Politik dan menjadi salah seorang Maladewa pertama yang menerima gelar Doktor Filsafat (1987). Waheed memimpin UNICEF untuk kawasan Asia Selatan, Afghanistan, Yaman, Makedonia, Montenegro, dan Turkmenistan.

Pada tahun 1980, Presiden Maumoon Abdul Gayoom mengangkatnya di Majelis Konstitusi untuk mengamandemen konstitusi negara. Majelis ini tidak mengambil langkah menuju pembangunan demokrasi. Presiden tetap mengontrol lembaga legislatif, yudikatif, dan memungkinkan hanya seorang calon tunggal yang dapat ikut dalam pemilihan. Ketika menyadari bahwa Anggota Parlemen tidak akan mampu untuk melakukan reformasi yang radikal, dia meninggalkan Maladewa untuk menyelesaikan pendidikan di Amerika Serikat. Di sana, dia meraih dua gelar Master dan PhD dari Universitas Stanford yang bergengsi itu. Ia kembali sebagai seorang warga Maladewa pertama yang meraih gelar PhD dan memilih duduk di Parlemen. Sehingga, ia sering dijuluki sebagai “Dr Waheed” dari Maladewa.
Pada tahun 1989, Waheed meninggalkan Ilyas Ibrahim yang masih saudara ipar Presiden Maumoon Abdul Gayoom. Meskipun dianggap sebagai underdog, popularitas Waheed dianggap sebagai ancaman bagi kelas penguasa. Bersama Abbas Ibrahim (seorang saudara Presiden Gayoom), Ilyas Ibrahim membentuk Satuan Bimbi. Kelompok ini bertanggung jawab atas sejumlah serangan pembakaran serta kampanye negatif terhadap Waheed dan pendukungnya. Segala upaya yang dilakukan kelompok tersebut tetap tidak membuahkan hasil. Pada Pemilu Parlemen 1989, Waheed meraih mayoritas terbesar suara. Waheed membutuhkan beberapa tahun untuk mencoba memiliki hukum yang akan membantu pengembangan sosial-ekonomi bangsa.

Setelah Mohamed Nasheed (juga dikenal dengan Anni) ditangkap karena menulis kritik tentang korupsi terhadap keluarga mantan Presiden Gayoom, ia mengimbau untuk memberikan bantuan terhadapnya. Waheed menyerukan memakai pita hitam guna melobi pembebasan Anni. Di kemudian hari, Nasheed dan Waheed bergabung, sehingga dapat mengalahkan Gayoom dalam pemilihan Presiden dan mengakhiri 30 tahun kekuasaan sang tirani. Waheed mengkampanyekan hak-hak warga agar memungkinkan setiap warga negara Maladewa dapat menikmati hak-hak dasar seperti yang dilindungi di seluruh dunia. Rancangan Undang-undang membantu Mohamed Nasheed dan rakyat, tetapi juga membatasi kekuasaan pemerintahan. Mereka yang mendukung kampanye parlemen yang sewenang-wenang ditangkap. Akhirnya, pada pertengahan 1991, setelah sebagian besar pendukung kampanye, Waheed beserta keluarga besarnya ditangkap. Waheed meninggalkan negara demi kebaikan warga yang mendukungnya dan untuk orang-orang yang peduli.

Selama sekitar satu dekade, setelah berkarir di Perserikatan Bangsa-banga, Waheed kembali ke Maladewa untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Partai Demokrat Maladewa (MDP: Maldivian Democratic Party) yang baru terbentuk. Selama kampanye, mesin politik baru muncul untuk menyerangnya. Diyakini bahwa kedua anggota partai pemerintah (Partai Rayyithunge Divehi) dan calon pimpinan lain untuk MDP terus mencemarkan nama baiknya. Selain juga menyerang keluarganya. Selama pencalonan pimpinan, selebaran berisi tuduhan fitnah bertebaran di jalan-jalan Male. Merasa mengalami penolakan, Waheed mengomentari rumor sehinga cukup membantunya mengalami kekalahan dengan selisih suara yang kecil. Setelah kalah dalam pencalonan kepemimpinan partai, Waheed tetap berada di MDP selama sekitar enam bulan untuk mengembangkan makalah kebijakan dan menjadi anggota kunci administrasi. Selain, Waheed menjadi Menteri Kabinet Bayangan Pembangunan Atol. Namun, setelah mengorganisir dan memimpin secara maraton langkah hukum dan aksi damai, Waheed menjauhkan diri karena tak tahan menyaksikan pimpinan partai yang berpandangan moderat. Akhirnya, dia kembali ke Perserikatan Bangsa-bangsa. Waheed mengambil jabatan di UNICEF. Pada 2006, setelah karyanya dengan MDP, ia mengambil posisi konsultasi. Pada Juni 2008, Waheed kembali ke Maladewa dan membentuk partai politik sendiri dengan nama Gaumee Itthihaad.

Pada awal September 2008, Waheed dicalonkan sebagai Presiden oleh Partai Gaumee Itthihaad Party atau Partai Persatuan Nasional (The National Unity Party). Namun, ketika tanggal pemilihan diumumkan pada awal Oktober 2008, GIP membentuk koalisi dengan Partai Demokrat Maladewa, setelah didekati oleh dua kelompok oposisi utama, Gerakan Pembaruan Maladewa (New Maldives Movement) dan Partai Republik. Oleh kedua partai tersebut, dia diminta menjadi calon Wakil Presiden. Sehari sebelum batas akhir pendaftaran calon presiden dan wakil presiden, GIP akhirnya memilih membentuk aliansi dengan MDP. GI, MDP, dan MDP Itthihaad membentuk koalisi dengan Mohamed Nasheed (pemimpin MDP) sebagai Calon Presiden dan Waheed sebagai Calon Wakil Presiden dalam pemilu presiden Oktober 2008. Pemilu tersebut menjadi pemilu demokratis pertama dalam sejarah Maladewa dan mengakhiri kekuasaan Presiden Maumoon Abdul Gayoom yang telah berkuasa selama 30 tahun. Nasheed dan Waheed dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 11 November 2008 dalam sidang khusus Majelis Rakyat di Dharubaaruge. Waheed dilantik sebagai Wakil Presiden pertama yang pernah terpilih sebelumnya.

Pada Selasa, 7 Februari 2012, Waheed dilantik menjadi Presiden Maladewa setelah pendahulunya, Mohamed Nasheed mengundurkan diri akibat aksi protes yang berlangsung beberapa minggu sebelumnya. Demonstrasi semakin menguat ketika aparat polisi menentang dan memilih bergabung dengan demonstran. Aksi demonstrasi sendiri dipicu oleh penangkapan terhadap Ketua Pengadilan Kriminal, Abdullah Mohamed pada tanggal 16 Januari oleh pendahulunya. Waheed sendiri menentang perintah penangkapan itu. Mantan presiden Mohamed Nasheed menyatakan dipaksa mundur di bawah todongan senjata melalui pemberontakan polisi dan kudeta yang merupakan bagian dari rencana Mohamed Waheed Hassan. Situs thehindu.com mengutip ucapan Presiden Waheed dengan menulis judul “National unity government is priority, says Waheed” (Kata Waheed, Pemerintah Persatuan Nasional adalah Prioritas”. (wkd/Epaphroditus Ph. M.)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: