RSS

Konser Robert & Lea Sutanto 2013

Robert dan Lea Sutanto

Robert dan Lea Sutanto dalam Konser “Rhapsody of Love” 2013. Foto: PGLII/Jackly Litaay

HUT ke-30 Tahun Pelayanan dan 25 Tahun Pernikahan

Tidak menyangka, sebuah perhelatan yang telah direncanakan terganggu akibat banjir yang melanda sekitar 14% wilayah ibukota negara Indonesia, DKI Jakarta pada Kamis, 17 Januari 2013 (17.01.13). Sejumlah besar kru termasuk wartawan dan penikmat musik religi Kristiani karya pasangan suami-istri, Robert & Lea Sutanto tidak mampu tiba di lokasi konser yang digelar di Grand Ballroom Hotel Melia (Kuningan, Jakarta Selatan) akibat genangan air yang tinggi. Wartawan ini yang tinggal di kawasan Kelapa Gading bagian selatan telah mencoba dengan berbagai usaha termasuk menaiki kendaraan besar seperti truk trailer hanya bisa sampai di sekitar perempatan lampu merah Cempaka Mas (Jakarta Timur). Di sana, dia bertemu dengan wartawan “Tabloid Victorious” Gereja Bethel Indonesia Rahmat Emanuel, Stevano Margianto yang telah basah kuyup akibat menerjang banjir dari berbagai titik lokasi, termasuk di Kuningan hingga kantornya yang terletak di Jalan Jembatan 2 Jakarta Utara.

Pada konferensi pers Jumat sore, 11 Januari 2013 di Belleza Shopping Arcade 3rd Level #380, Jalan Letjen Soepeno No 34 Permata Hijau (Jakarta Selatan), didampingi dua putra dan putrinya, Raguel dan Kezia serta seorang manajer konser, Robert & Lea menyatakan, konser menampilkan sekitar 30 lagu religi Kristiani selama tidak kurang 2,5 jam dengan tema “Rhapsody of Love; A Charity Concert By Robert & Lea Sutanto”. Gelaran tersebut mengisahkan perjalanan hidup selama sekitar 30 tahun pelayanan Robert & Lea sekaligus peringatan pernikahan perak (25 tahun) mereka.

Konser bertutur tentang latar belakang terciptanya sebuah lagu, mengenal siapa Robert & Lea, pelayanan mereka, ketekunan, kehangatan, dan kasih sebuah keluarga dalam melayani Tuhan. Cinta sepasang suami-istri dan orangtua dari tiga putra-putri (Raguel, Kezia, dan Ashley), keramahan dan kelembuhan seorang gembala jemaat, ketegasan seorang pemimpin, dan keteguhan dalam memegang prinsip.

Lagu-lagu yang ditampilkan seperti “Yesus Sahabatku”. Sajian konser diiringi oleh Widya Kristanti Orchestra dan Aminoto Kosin. Lagu-lagu ditampilkan secara tematik, yakni Song for Lullaby, Songs of Encouragement, Songs of Intimacy, Songs for Family, Love Songs, Song for Nations, dan Songs of Thanksgiving. Sekitar 30 lagu juga ditampilkan berkolaborasi dengan Mayjen TNI (purn) Darpito Pudyastungkoro (mantan Pangdam Jaya), Choky Sitohang, Carlo Saba, Monita Tahalea, Pdt JE Awondatu, Paulus Bambang, Matthew Sayersz, Olive Latuputty, Rhea Arella, Ren Tobing, dan sejumlah penyanyi lainnya.

Beberapa lagu juga ditampil secara akustik. Lagu berjudul “Nyanyian Cinta Buat Indonesia” dinyanyikan oleh sinden (sebutan penyanyi Jawa) dengan iringan gendang dan tarian tradisional milik bangsa Indonesia. Di antara sajian lagu-lagu diselingi dengan tayangan video/foto perjalanan Robert dan Lea dalam kancah musik religi Kristiani Indonesia, kesaksian sejumlah orang yang mengenal kedua sosok tersebut, dan theatrical dance.

Konser ini merupakan wujud salah satu kerinduan Robert & Lea yang ingin mempersembahkan berkat bagi Indonesia. Sebuah cerita kehidupan yang dijalani bersama Sang Juruselamat, perenungan, kesaksian, dan mimpi seorang legenda musik religi Kristiani guna membangun kembali “Pondok Daud” yang roboh.

Robert dan Lea

Robert dan Lea dalam Konferensi Pers di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, 17 Januari 2013. Foto PGLII/Jackly Litaay

The Journey of Robert & Lea

Robert Sutanto mulai dikenal dengan karyanya yang berjudul “Di Hadapan Hadirat-Mu” (1983). Lagu ini menjadi populer, khususnya di kalangan persekutuan doa. Lagu tersebut juga membuat penasaran Lea dan berkeinginan bertemu dengan penciptanya pada suatu kesempatan.

Keinginan Lea terkabul ketika Robert yang tumbuh dewasa di Kanada berkunjung ke Indonesia dan bertemu pada tahun 1986 saat keduanya terlibat bersama-sama dalam pelayanan ibadah Kristiani bertajuk “Kebaktian Kebangunan Rohani Kasih Melanda Jakarta”. Saat itu, Robert merasa bahwa Lea adalah wanita yang telah dipersiapkan Tuhan baginya sebagai pendamping hidupnya. Pada 21 Desember 1986, Robert melamar Lea lewat sambungan telepon. Bak gayung bersambut, Lea pun menerima lamarannya.Setelah bertunangan pada 6 Juni 1987, Robert dan Lea meresmikan pernikahan pada 11 Januari 1988 dan pemberkatakan nikah dilakukan oleh Pendeta JE Awondatu pada 17 Januari 1988.

Pasangan yang memiliki visi dan misi serupa ini pun memutuskan untuk terjun di bidang pelayanan Kristiani lewat lagu-lagu puji-pujian penyembahan kepada Sang Khalik serta mengajak umat-Nya untuk tinggal dekat dalam hadirat Tuhan dan memiliki hubungan intim dengan-Nya. Pasca pernikahan pada tahun 1989, mereka mulai melayani dengan bergabung di GISI dan lebih banyak melakukan pelayanan misi. Pada 1991, ketika turut ambil bagian aktif dalam pelayanan ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) pimpinan Penginjil televisi Benny Hinn (lengkapnya,Toudik Benedictus “Benny” Hinn), mereka mendapatkan peneguhan iman bahwa Tuhan akan memakai pasangan suami-istri ini untuk memberkati banyak orang melalui lagu-lagu pujian dan penyembahan kepada Sang Pencipta alam semesta. Kemudian mereka terlibat juga dalam pelayanan di Bali bersama Pendeta Ir Timotius Arifin dan Pendeta Chris Manusama di Kota Ambon. Pada 1993, mereka ke Belanda untuk mengadakan pelayanan penginjilan bagi mahasiswa Indonesia khususnya Ambon bersama VOG (Voice of Generation). Pada tahun tersebut, mereka memutuskan bergabung dengan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Bethany Jakarta pimpinan Pendeta Dr Ir Niko Njotorahardjo. Di GBI Bethany Jakarta ini, fokus pelayanan mereka pada bidang pujian dan penyembahan dengan membuahkan lagu-lagu yang sesuai dengan visi gembala. Sepanjang perjalanan hidup mereka, Robert dan Lea memenuhi panggilan sebagai penulis lagu dan menjalankan tugas penggembalaan di “New Wine International Church” (NWIC) Jakarta.

Robert & Lea menuangkan isi hati mereka ke dalam lirik dan nada-nada untuk pemulihan gereja, menyembuhkan luka-luka hati umat pilihan Tuhan, membangkitkan kembali iman umat-Nya untuk mengasihi Dia dan lebih giat bekerja di ladang Tuhan.

Nama Robert & Lea semakin populer dengan lagu berjudul “Di Bawah Kepak Sayap-Mu”. Lagu ini sempat hits di blantika musik Indonesia pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Berkat kesetiaan pada panggilan hidup dan ketekunan mereka untuk senantiasa mengembangkan talenta yang Tuhan telah berikan menempatkan keduanya menjadi salah satu legenda di blantika musik religi Kristiani di tanah air. Selama tiga dekade ini, lagu ciptaan mereka telah memberikan pengaruh bagi pelayanan musik dan pujian, baik di gereja-gereja di Indonesia maupun bangsa-bangsa. Tak bisa dipungkiri bahwa lagu-lagu Robert & Lea membawa perubahan besar bagi gereja di Indonesia.

Kolaborasi dua musisi ini pun makin dikenal luas melahirkan lagu-lagu yang menyentuh dan menggugah semangat. Bukan sebatas bagi gereja, tetapi juga bagi bangsa dan kemanusiaan.

Selama rentang waktu 30 tahun berkarya, Robert & Lea telah menghasilkan ratusan lagu dan mencetak album. Tema album dan lagu-lagunya pun bervariasi, seperti cinta kasih, keintiman bersama Tuhan atau pun pasangan (Deeper in Love, Falling in Love, First Love), ucapan syukur (Thank You), hingga cinta negeri (Bless Indonesia), dan anak-anak berkebutuhan khusus (Precious One, Rumah Damai).

Lagu-lagu karya Robert & Lea lahir dari penglaman hidup dan pergumulan mereka. Seperti ketika menciptakan album bertajuk “Tuhan Penolongku” (1993) bersamaan dengan waktu pindah rumah. Meski sudah 10 tahun berkarya, hingga saat itu mereka masih belum memiliki kediaman pribadi.

Dalam album New Season (akhir 2005), lagu “Satu Hari Lagi” tercipta setelah Robert mengalami collaps 2 kali, bahkan sudah meninggal, tetapi belum dipanggil Tuhan. “Dari peristiwa itu, kami belajar untuk lebih menghargai kehidupan. Sewaktu doa pagi, Pak Robert mengucapkan kata-kata ‘Terima kasih Tuhan, satu hari lagi Kau berikan pada kami’. Dari situ, terus tercipta melodi; satu hari lagi Kau berikan padaku…” tutur Lea suatu ketika.

Beberapa lagu Robert & Lea seperti Deeper in Love (2000) telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Mandarin, Spanyol, Korea, Jepang, dan Ibrani.

Hingga kini, selain berkarya dalam musik religi, pasangan Robert & Lea juga menggembalakan jemaat New Wine International Church Jakarta. Konser Rhapsody of Love bukan akhir karya mereka, melainkan jembatan untuk merajut pelayanan mereka di masa depan agar tetap menjadi berkat bagi Indonesia dan bangsa-bangsa.

Robert Sutanto

Ia lahir di Jakarta, 11 Mei 1958. Anak ke-6 dari 10 bersaudara ini mulai menerima panggilan pelayanan religi Kristiani secara penuh waktu saat dirinya sedang menuntut ilmu di Kanada pada tahun 1983. Pada tahun tersebut, Robert Sutanto menelorkan sebuah lagu berjudul “Di Hadapan Hadirat-Mu“. Lagu ini mengungkapkan respon terhadap panggilan Tuhan dalam kehidupan kemudian.

Semenjak itu, dia semakin aktif dan terinspirasi merangkai kata demi kata dan bait demi bait sehingga tersusun dalam sebuah judul lagu. Pelayanan semakin terbuka lebar. Pada 1985, Robert mulai merambah ke Belanda, yaitu ketika terjun dalam pelayanan persekutuan doa mahasiswa Indonesia di Delft (Belanda) melalui ibadah KKR “Malam Sejuta Kasih“. Pelayanannya berlanjut di Ujung Pandang (Sulawesi Selatan, Indonesia) dan KKR “Rantai Doa Nasional” di Tawangmangu (Jawa Tengah). Pengetahuan religi seorang Robert kepada Tuhan dituangkan dalam lirik lagu yang mengajak umat-Nya untuk selalu dekat dengan Tuhannya.

Lea Tjandrapurnomo

Lea Sutanto (lahir Lea Tjandrapurnomo di Jakarta, 11 Juni 1965) telah mampu memainkan musik khususnya piano. Anak ke-3 dari 4 bersaudara ini semula tidak menyadari jika memiliki kemampuan bermusik. Pada usia 5 tahun, Lea telah mampu memainkan musik dalam judul lagu “Malam Kudus” dengan sempurna melalui jari-jari mungilnya di tuts-tuts piano. Berawal dari peristiwa tersebut, orangtuanya kemudian melatih kemampuannya dengan membinanya melalui kursus musik. Tak dapat dipungkiri, banyak lagu kemudian tercipta dari kepiawaiannya memainkan alat musik piano.

Lea pun mulai aktif dalam pelayanan di Gereja Isa Almasih. Pada tahun 1975, ia pun bergabung dengan grup musik The Disciples. Sejumlah penghargaan yang sempat diraih seperti Juara Pertama se-DKI Jaka untuk Lomba LOWREY Organ Junior (1979), Juara Harapan Pertama Lomba Nyanyi Bintang Radio secara Trio (1983), mencipta lagu “Hari-hari” di album “Hasrat” yang dinyanyikan Andi Sitti Meriem Nurul Kusumawardhani Mattalatta atau dikenal Andi Meriem Mattalatta (Makasar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 31 Agustus 1957–Zoetermeer, Belanda, 4 Juni 2010). Lea sempat menyanyikan lagu sample Santoso Gondowijoyo berjudul “Aku Melangkah Lagi” yang kemudian dipopulerkan Vina Panduwinata (lengkapnya, Vina Dewi Sastaviyana Panduwinata). Lagu tersebut meraih predikat pemenang dalam Festival Lagu Populer Indonesia pada tahun 1984.

Pada bidang pelayanan, Lea juga turut terlibat dalam KKR Kasih Melanda Jakarta dan Kasih Melanda Indonesia (1986). Bahkan, jauh sebelum itu, tepatnya periode 1980-1983, Lea aktif dalam rekaman bersama The Disciples. (Epaphroditus Ph. M)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s